Prosesi Penarikan Keris Pusaka Eyang Sapu Jagad

 

Awal mulanya, sebagaimana aktivitas rutin Kang Masrukhan di tengah malam, yakni melakukan sholat malam di kamar khusus di kediamannya. Setelah selesai sholat malam, beliaupun tidak lupa untuk berdzikir kepada Allah. Meminta ampun atas dosa-dosa beliau serta bersyukur atas nikmat berupa kesehatan jasmani maupun rohani yang telah diberikan Allah kepada beliau. Sehingga, beliau bisa beraktifitas serta mengamalkan ilmu beliau untuk membantu menyelesaikan problematika para pasiennya.

 

Dalam khusuknya beliau berdzikir, seakan ada bisikan ghaib yang terdengar jelas di telinga kanan beliau. Bisikan ghaib tersebut meminta beliau untuk puasa mutih selama tujuh hari berturut-turut. Dan di hari yang ke tujuh tidak boleh tidur mulai matahari terbit hingga matahari terbit kembali di hari berikutnya. Setelah selesai berpuasa, harus banca’an atau syukuran dengan menyembelih ayam cemani (ayam hitam mulus) dan ayam putih mulus.

 

Kemudian,  berziarah ke tempat petilasan Raja Brawijaya di Gunung Lawu pada malam satu syuro. Sebuah Gunung yang terletak di Karanganyar, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung yang terkenal dengan kesakralan dan berbagai mitos mistisnya. Gunung Lawu dikeramatkan oleh masyarakat sekitar karena diyakini sebagai tempat bertapa hingga moksanya Prabu Brawijaya, Raja Mahapahit terakhir yang lebih dikenal dengan Sunan Lawu.

Bisikan tersebut selalu datang hingga tujuh malam berturut-turut. Hingga akhirnya beliaupun melaksanakan semua dalam bisikan gaib tersebut. Sebelum berangkat ke Gunung Lawu, beliau mempersiapkan berbagai perbekalan yang dibutuhkan terlebih dahulu.

 

Dengan mobil pribadi, beliau berangkat dari kediamannya di Jepara, Jawa Tengah menuju ke Gunung Lawu. Dalam perjalananya tersebut, seakan ada makhluk astral yang selalu membuntuti mobil pribadi beliau. Namun, beliau membiarkannya karena beliau menganggap makhluk astral tersebut tidak memiliki niat yang buruk, ia hanya ingin mengawal perjalanan beliau menuju Gunung Lawu.

 

Di Gunung Lawu

 

Setelah tak terasa tiga jam perjalanan beliau lalui, akhirnya sampai juga beliau di kaki Gunung Lawu. Sesampai disana, beliau memutuskan untuk beristirahat sejenak di warung yang berjejer dipingir jalan sambil mengisi perut yang kosong dengan nasi pecel dan secangkir kopi hitam panas sebagai sedikit peredam rasa dingin yang menusuk sumsum tulang-tulang di seluruh persendian beliau.

 

Setelah beliau merasa cukup beristirahat dan perut juga merasa kenyang, beliau memutuskan untuk mandi di Sendang lanang untuk menyucikan diri. Sendang tersebut memang biasa digunakan para peziarah ataupun para pecinta alam untuk menyucikan diri sebelum naik ke puncak Gunung Lawu untuk sowan kepada Prabu Brawijaya yang lebih dikenal dengan Sunan Lawu.

 

Selesai menyucikan diri, beliau langsung menuju puncak lawu. Beliau memilih naik melalui jalur cemoro kandang karena beliau yakin disinilah sebenarnya pintu gerbang kerajaan gaib di Gunung Lawu. Dalam perjalanan menuju puncak, beliau mendapati berbagai macam makhluk astral baik yang bergolongan putih maupun hitam yang “sliweran” atau saling berjalan kesana kemari layaknya manusia pada umumnya. Oleh karenanya pantas bila ada yang menyebut Gunung Lawu sebagai gudangnya para lelembut atau makhluk ghaib.

 

Selain itu, Kang Masrukhan juga mendapati penampakan sebuah pasar yang sangat ramai akan penjual dan pembeli. Namun, yang membedakan pasar ini dengan pasar yang lain adalah semua penjual dan pembelinya merupakan para lelembut atau makhluk ghaib. Oleh karenanya pasar ini disebut dengan pasar setan. Tapi, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk melihatnya. Karena hanya orang-orang tertentu atau yang memiliki kemampuan lebih yang bisa melihat pasar setan ini.

 

Kemudian, beliau melanjutkan perjalanannya ke Hargo dalem yang dipercaya sebagai tempat moksanya Sang Prabu Brawijaya. Sesampainya di hargo dalem, beliau duduk bersila sambil berdzikir kepada Alloh. Dalam khusuknya berdzikir, beliau ditemui oleh sosok Prabu Brawijaya atau yang lebih dikenal dengan Sunan Lawu.

 

Sunan Lawu meminta beliau untuk bertapa hingga muncul sebuah Keris Pusaka Eyang Sapu Jagad. Kemudian, beliaupun melaksanakan perintah Kanjeng Sunan Lawu. Tepat pada malam ke tiga beliau bertapa, kabut menjadi semakin tebal, hawa dingin terasa menusuk seluruh persendian beliau. Tak lama kemudian, angin yang sangat kencang seakan berhembus ke arah beliau hingga memporak-porandakan semua yang ada di sekitar beliau. Namun, semuanya itu tak berarti apa-apa bagi beliau. Niat tulus dan pendirian yang kukuh seakan menafikan semua rintangan yang datang menerpa beliau.

 

Sejenak kemudian, beliau merasakan sebuah energi yang sangat kuat menghampiri beliau. Beliau meyakini energi tersebut berasal dari benda pusaka yang memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat. Semakin lama energi tersebut semakin mendekat dan semakin kuat. Selanjutnya, beliaupun mencoba dengan sekuat tenaga untuk menarik benda pusaka tersebut.

 

Dengan usaha keras serta niat yang tulus, akhirnya beliaupun mampu menariknya ke alam manusia. Benda Pusaka yang memiliki energi yang sangat dahsyat tersebut berwujud keris dengan luk tiga belas. Kemudian, beliau membawanya pulang ke kediaman beliau di Jepara untuk dibersihkan dan diritualkan. Dalam perjalanan pulang, beliau juga diikuti dengan makhluk gaib yang selalu membuntuti mobil pribadi beliau sama seperti ketika beliau berangkat dari Jepara menuju Gunung Lawu. Sosok gaib tersebut mengenakan baju rompi perang bak seorang perajurit yang siap mengawal seorang Raja. Akibatnya, perjalananpun terasa cepat dan lancar, tanpa ada suatu rintangan apapun.

 

Di Kediaman Kang Masrukhan

 

Setelah dua setengah jam perjalanan, sampailah beliau di kediamannya di Jepara, Jawa Tengah. Lalu, beliau menaruh Keris Pusaka Eyang Sapu Jagad tersebut pada sebuah peti dan menyimpannya di kamar khusus pusaka yang berada tidak jauh dari kamar beliau beristirahat sambil menunggu waktu yang tepat untuk melakukan ritual pembersihan energi negatif serta menyempurnakannya dengan pengisian energi murni yang bersumber dari alam semesta.

 

Malam demi malam seakan berlalu dengan cepat, hingga tibalah waktu yang beliau nanti-nantikan yaitu malam jum’at wage. Kang Masrukhan meyakini malam inilah malam yang sangat tepat untuk melakukan ritual. Lalu, beliau menyediakan kembang tujuh rupa, minyak misik dan air yang berasal dari tujuh sumur yang berbeda untuk membersihkan keris pusaka keramat tersebut.

 

Setelah selesai dibersihkan, kemudian beliau bersemedi di luar rumah beliau untuk menyerap energi murni dari alam semesta dan mengalirkannya ke dalam Keris Pusaka Eyang Sapu Jagad. Energi murni ini berguna untuk mengunci qodam serta meredamkan kekuatan supranatural yang luar biasa dahsyat dari dalam Keris Eyang Sapu Jagad. Sehingga, tidak membahayakan siapapun yang memilikinya. Sebab, qodam Eyang Sapu Jagad memiliki kekuatan yang luar biasa dan apabila dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif bisa berbalik menyerah pemiliknya. Oleh karenanya, siapapun yang kelak memiliki Keris Pusaka Eyang Sapu Jagad ini supaya menjaga dan mempergunakannya hanya untuk hal-hal yang bersifat posistif, dengan kata lain untuk kebaikan umat manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alamat Kantor

Perum Pankis Griya - Rumah No.1

Jl. Pakis Raya, RT.01/06, Jepang Pakis

Jati, Kudus, Jawa Tengah,

Indonesia - 59342

 

Call Center 1


Telepon & SMS: 085712999772

 

WhatsApp: 085712999772

 

Email: spiritualpower88@gmail.com


 

 

Call Center 2


Telepon & SMS: 082223338771


WhatsApp: 082223338771


Email: bagianpemesanan@gmail.com

 

Untuk respon cepat silahkan

Telepon/SMS

 

*Note : Kode area Indonesia (+62)

Contoh : +6285712999772

 


 

Hari dan Jam Kerja

Call Center Kami


Senin-Sabtu, pukul 08:00-16:00 WIB

Sebelum datang, harap telepon dulu.

 

 

Praktek Supranatural Resmi


Terdaftar di Dinas Kesehatan & Kejaksaan

STPT DINKES: 445/515/04.05/2012

KEJARI: B-18/0.3.18/DSP.5/12/2011

 

Lihat Bukti Legalitas - Klik Disini